INKAR ASSUNNAH

A. Definisi Inkar Sunnah
Dari segi etimologi, inkar sunnah terdiri dari dua kata. inkar masdar dari انكر – ينكر – انكرا yang berarti menolak, mengingkari. sedangkan as sunnah berarti perilaku, syari’at dan hadits.ditinjau dari segi terminology, inkar sunnah adalah faham yang menolak sunnah ( hadits) Rasulullah SAW sebaga hujjah dan sumber hukum ajaran islam yang ke dua, yang wajib ditaati dan diamalkan. golongan atau pelakunya disebut “ mungkir as sunnah”,Imam syafi’I menyatakan bahwa kelompok ini muncul dipenghujung abad kedua atau awal abad ke tiga Hijriyah.

B. Penyebab Inkar as Sunnah

Penyebab Inkar Assunnah menurut para Ilmuan dunia Meliputi:
@ Kurangnya pengetahuan tentang As Sunnah
@ Adanya upaya suatu kelompok tertentu untuk memurtadkan ummat islam baik dari dalam maupun dari luar agama islam
@ Adanya salah tafsir terhadap hadits-hadits tertentu yang sulit di pahami maknanya

C. Golongan Inkar As Sunnah
Orang-orang inkarsunnah sebenarnya terdiri dari tiga kelompok dengan tiga sikap yang berbeda, yaitu:

1. Kelompok pertama
kelompok ini menolak hadits-hadits Rasulullah sebagai hujjah secara keseluruhan. Argumentasi kelompok ini dalam menolak hadits sebagai sumber kedua ajaran islam, adalah

a. Al-Qur’an diturunkan Allah SWT dalam bahasa arab. dengan penguasaan bahasa arab yang baik, tanpa memerlukan bantuan penjelasan dari hadits-hadits Rasulullah SAW.

b. Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan Allah SWT adalah penjelas segala sesuatu yang tersirat dalam Q.S An-Nahl ayat 89:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya : ……. Dan kami turunkan kepadamu al kitab (al qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Hal ini berarti penjelasan al qur’an telah mencakup segala sesuatu yang diperlukan oleh ummat manusia. maka dengan demikian tidak perlu lagi penjelasan dari hadits-hadits rasulullah SAW

b. Hadits-hadits Rasulllah SAW sampai kepada kita melalui proses periwayatan yang yang tidak dijamin bersih dari kekeliruan, kesalahan dan bahkan kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Oleh karna itu nilai kebenarannya tidak menyakinkan( zanni ). karena status ke zanni an ini, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai penjelas (mubayyin) bagi Al Qur’an yang diyakini kebenarannya (qat’i).

Dari ketiga Argumentasi ini mereka menolak otoritas hadits-hadits Rasulullah SAW sebagai hujjah dan sumber kedua ajaran agama islam. dengan demikian,dalam prinsip mereka sunnah tidak perlu di taati dan diamalkan. sumber satu-satunya ajaran agama islam bagi mereka adalah Al Qur’an.

Imam Syafi’I memberikan jawaban atas argumen-argumen kelompok inkarsunah dengan mengatakan bahwa :

a. Al Qur’an sendiri dalam banyak ayatnya mengatakan bahwa ummat islam harus menjauhi larangan Allah SWT dan Rasul Nya serta mengikuti segala perintah Allah SWT dan Rasul Nya. Perintah dan larangan Rasulullah ini hanya dapat diketahui setelah ia wafat, melaui hadits-haditsnya. dengan demikian landasan utama bagi otoritas hadits-hadits sebagai hujah dan sumber ajaran islam kedua adalah ayat Al Quran sendiri.

b. Dengan menguasai bahasa arab, maka orang akan tahu bahwa al qur’an-lah yang memerintahkan mereka untuk mengikuti sunah Rasulullah yang diriwayatkan oleh periwayat-periwayat terpercaya (as shadiqin), hal ini terdapat dalam al qur’an surat Al Jumuah ayat 02

Artinya : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
Dan Qur’an Surat Al Ahzab ayat 34.

Artinya : Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
c. Al Qur’an mengandung banyak perintah atau larangan yang sifatnya umum tanpa memberikan bagaimana perincian pelaksanaannya. kalau tidak, maka hamba Allah tidak akan dapat melaksanakan perintah atau menjauhi larangan tersebut sesuai dengan kehendak Allah SWT. di sinilah hadits-hadits Rasulullah SAW berfungsi.

2. Kelompok Kedua
Kelompok ini menolak hadits-hadits Rasulullah SAW yang kandungannya tidak disebutkan dalam al qur’an baik secara implicit maupun eksplisit. ini berarti hadits-hadits tidak punya otoritas untuk menentukan hukum baru, diluar yang disinggung Al Qur’an Argumentasi yang dikemukakan oleh kelompok kedua ini sama seperti yang dikemukakan oleh kelompok pertama, yakni bahwa Al Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan ajaran-ajaran Islam.
Akan tetapi menyimak pada bantahan-bantahan Imam Syafi’I di atas, argumen kelompok kedua inipun akan pupus, jika dikatakan bahwa hadits-hadits itu zanni karena diproses dengan jalan zanni,maka dari sekian banyak hadits itu ada juga yang sifatnya qat’I terhadap hadits yang zanni Ini imam Syafi’I juga mengatakan bahwa tidak semua hadits yang yang zanni tersebut dapat dikatakan hujjah, kecuali kalau hadits tersebut memenuhi persyaratan shahih atau hasan. Kekeliruan dan kesalahan dalam periwayatan sebagian hadits tidak dapat dijadikan sebagai argumentasi untuk menolak otoritas hadits sebagai hujjah dan sumber ajaran islam kedua setelah Alqur’an.

Argumen Imam Syafi’I tersebut telah membendung gerakan inkar sunnah untuk kurun waktu yang cukup panjang, muncul lagi abad ke 19 dan abad ke 20. Oleh karewnanya dalam sejarah islam dikenal dua bentuk kemunculan gerakan inkar sunnah ini, yakni inkar sunnah tempo dulu (munkir assunnah qodim) dan inkar sunah abad modern (mungkir sunnah hadits). Inkar sunnah dizaman Imam Syafi’I tersebut sukar untuk diidentifikasi, karena Imam Syafi’I sendiri tidak menjelaskan siapa lawan diskusinya tersebut.
Namun Khudari Bek ( seorang ahli ushul fiqh Mesir ) mempunyai asumsi bahwa inkar sunnah dizaman Imam Syafi’I adalah dari kalangan teolog Muktazilah. Asumsi ini muncul berdasarkan isyarat Imam Syafi’I sendiri yang menunjukkan bahwa mereka itu dari basrah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah, basra ketika itu merupakan pusat kegiatan ilmiah yang menyangkut ilmu kalam (teologi). Dari kota basra inilah berkembang faham dari tokoh-tokoh muktazilah dikenal sebagai yang banyak mengkritik ahlul hadits ( orang-orang yang dalam menetapkan hukum hanya berpegang pada alqur’an dan hadits, tidak mau melakukan Ijtihad).
Berbeda dengan asumsi di atas, Muhamad Abu Zahrah (ahli ushul fiqih,fikih dan kalam), berpendapat bahwa kelompok inkar sunnah diabad kedua dan ketiga hijriah tersebut adalah orang-orang Zindik yang lahirnya mengaku islam tetapi batinnya ingin menghancurkan islam, bukan dari kalangan muktazilah. Penolakanya terhadap muktazilahlah yang menjadi lawan diskusi imam Syafi’I pada waktu itu didasarkan pada Argumen bahwa muktazilah sendiri tetap mengakui dan menerima hadits-Hdits Rasulullah Saw sebagai sumber ajaran islam.
Selanjutnya Abu Zahrah juga mengasumsikan bahwa sebagian dari kelompok ingkar sunnah tersebut, disamping para zindik, adalah dari kalangan khowarij alas an abu zahrah adalah karna ada diantara penganut faham khowarij ini yang,mengakui adanya hukuman rajam. Pada hal hukuman rajam tidak disebutkan dalam al qur’an.

Jika kelompokinkar sunnah kelasik sulit untuk diidentifikasi secara pasti, maka sebaliknya para tokoh inkar sunnah abad modern dapat dikemukakan dengan jelas. Para tokoh-tokoh yang terkenal adalah

1. Taufiq Sidqi (w,1920) berasal dari mesir. Ia mengatakan bahwa sumber ajaran islam itu hanya Al Qur’an.
2. Gulam Ahmad Parvez (L. 1920 ) berasal dari india. Ia merupakan pengikut setia ajaran Taufiq Sidqi. Dengan pendapatnya “bahwa bagiamana cara pelaksanaan shalat terserah para pemimpin ummat untuk menentukannya secara musyawarah, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat. Jadi tidak perlu ada hadits-hadits nabi untuk itu.
3. Rasyad Kahlifa adalah seorang kelahiran mesir dan menetap di amerika serikat. Ia hanya mengakui Al Qur’an sebagai satu-satunya sumber ajaran islam ia menolak hadits-hadits dan bahkan menilainya sebagai buatan Iblis yang di dibisikkan kepada Muhammad SAW.
4. Kassim Ahmad berasal dari Malaysia dan secara vokal menyatakan bahwa dia pengagum Rasyad Kahlifa. Oleh karena itu pandangannya tentang hadits-hadits Rasulullah SAW sejalan dengan Rasyad Kahlifa. Melalui bukunya Hadits sebagai suatu penilaian semula, kasimmenyeru ummat islam agar meninggalkan hadits-hadits karena menurut penilainnya hadits adalah ajaran palsu yang dikaitkan dengan Rasulullah SAW. Hadits juga menurutnya penyebab pertama terjadinya perpecahan utama dan kemunduran ummat islam.
5.
Tokoh-tokoh inkar sunnah yang tercatat di Indonesia antara lain adalah Abdul Rahman, Moch. Irham, Sutarto, dan Lukman Saad. Kelompok ini sempat meresahkan masyarakat dan menimbulkan banyak reaksi. Atas kejadian ini maka keluarlah surat keputusan Jaksa Agung No. Kep -169/J.A/1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi larangan terhadap aliran inkar sunnah diseluruh wilayah Republik Indonesia .

3. Kelompok Ketiga

Kelompok ini hanya menerima Hadits-Hadits Mutawattir sebagai hujjah dan menolak kehujjahan hadits-hadits ahad (hadits),sekalipun ada diantara hadits-hadits ahad ini memenuhi syarat-syarat shahih. Alas an utama yang mereka kemukakan adalah karna hadits-hadits ahad itu bernilai zanni (zanni al wurud = proses penukilannya tidak menyakinkan). Dengan demikian kebenaran yang datang dari Rasulullah SAW tidak dapat diyakini sebagaimana hadits mutawattir. Menurut mereka,urusan agama haruslah di dasarkan pada dalil qat’I yang disepakati kebenarannya.
Dalil qat’I yang diterima semua ummat dan diyakini kebenarannya hanyalah al qur’an dan Hadits-hadits mutawattir. Alasan mereka ini karna berdasar pada QS Al Isra’ ayat 36

yang artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabkannya.
Dan QS Al Najm Ayat 28

Yang Artinya “ Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.

Imam Syafi’I, sebagaimana ulama’ lainnya, mengakui bahwa memang hadits-hadits ahad tersebut nilainya adalah zanni, karna proses periwayatannya bisa saja mengalami kekeliruan atau kesalahan. Oleh karenanya tidak semua hadits ahad dapat diterima dan dijadikan hujjah, kecuali kalau hadits ahad tersebut memenuhi persyaratan Shahih atau hasan sehubungan dengan itu adalah keliru dan tidak benar pandangan yang menolak otoritas kehujjahan hadits-hadits ahad secara keseluruhan.

Alasan lain yang dikemukan oleh Imam Syafi’I adalah dengan menganalogikan hadits ahad dengan status dua orang saksi dalam membuktikan sesuatu. Jika dua orang saksi yang mengatakan bahwa seseorang telah membunuh orang lain dapat dibenarkan kesaksiannya, sedangkan kedua saksi itu masih diragukan kebenarannya atau paling tidak tingkat kebenarannya zanni, berarti kita telah membunuh (Qishas) seseorang berdasarkan sesuatu yang zanni, sedangkan larangan tidak boleh membunuh orang dinyatakan secara qat’I dalam Al Qur’an. Jika dalam kasus saksi ini kita dapat melakukan hukuman qishas berdasarkan kebenaran yang sifatnya zanni, timbul pertanyaan mengapa hadits-hadits ahad yang memenuhi syarat-syarat shahih yang juga sifatnya zanni tidak dapat di terima.?

Dalam sejarah tercatat bahwa tidak semua sahabat senantiasa berada disamping nabi SAW untuk menghafal atau menerima pesan-pesan nabi SAW, karena para sahabatpun sebagai manusia sibuk dengan aktivitas keseharian mereka. Jika hadits yang harus dijadikan hujjah tersebut harus mutawattir, tentunya rasulullah akan senantiasa mengumpulkan sahabatnya jika ingin memberipesan kepada ummatnya. Disamping itu tidak sedikit para sahabat diutus nabi Saw kedaerah-daerah untuk menyampaikan pesan-pesan agama. Pada saat itu tidak muncul kekhawatiran akan tidak diterimanya kabar ahad dari sahabat yang diutus nabi tersebut.

About these ads

Tentang Muhammad Khofifi

beragam aktifitas selalu mengakrabi kehidupan Muhammad Khofifi, eksdemonstran kelahiran desa Bulupitu gondanglegi Malang Jawa timur pada tanggal 18 Maret 1985 ini menempuh TAMAN KANAK-KANAK IBNU HAJAR LULUS PADA TAHUN 1999/1990 pendidikan MI MIFTAHUL ULUM Bulupitu lulus pada tahun pelajaran1994/1995 kemudian MTs IBNU HAJAR BULUPITU lulus pada tahun pelajaran 1998/1997 kemudian mengabdi di dalem ponpes Al HAFILUDDIN KYAI HMUHAMMAD SHOLEH selam 2 tahun kemudian melanjutkan sekolah MA di MADRASAH ALIYAH RAUDLATUL ULUM tahun pelajaran 2001/2002 kemudian lulus pada tahu 20004/2005 lulus kemudian tugas mengajar selama satu tahun di Pulau GARAM " madura" didesa pao paleh laok ketapang sampang madura kemudian pulang karna tidak kerasan kemudian bekerja menjadi Staff Perpustakaan selama satu tahun kemudian diangkat menjadi staff TU administrasi sampai sekarang kemudian kuliah di STAI AL QOLAM.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s