POLA PENDIDIKAN SANTRI PADA PONDOK PESANTREN

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihannya, kelebihan yang dimiliki manusia adalah akal pikiran atau nalar. Dengan nalar diharapkan manusia mampu manjadi kholifah dibumi, dalam artian manusia biasa memelihara dan memanfaatkan segala apa yang tuhan ciptakan untuknya.
Pendidikan pada Pondok Pesantren Salafiyah merupakan lembaga sosial kemasyarakatan yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan Islam tradisional terbesar di pelosok-pelosok baik di desa maupun di perkotaan.

Pendidikan pada Pondok pesantren juga merupakan pendidikan tertua di Indonesia yang telah melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional serta tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki andil besar tehadap bangsa Indoneseia khususnya dalam upaya pencerdasan dan pembentukan jiwa yang sempurna.
Menurut sejarah perkembangan Pondok pesantren menunjukkan bahwa, lembaga ini tetap eksis dan konsisten melaksanakan fungsinya sebagai pusat pengajaran ilmu-ilmu agama, sehingga dari pesantren lahir para kader ulama, guru agama, mubaligh, tokoh politik, dan lain-lain, yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan zaman dan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta arus informasi global, pendidikan pada pondok pesantren salafiyah, juga mengalami perubahan dalam rangka penyesuaian, khususnya menyangkut kurikulum, tujuan, kegunaaan, pemahaman, serta metode pembelajarannya dalam pesantren.
Melihat pada latar belakang tersebut, maka pelaksanaan supervise pendidikan yang selama ini hanya dilakukan dilingkungan sekolah umum dan Madrasah, nampaknya perlu pula dilakukan di madrasah Salafiyah, walaupun prinsip-prinsip dasarnya sama.

B. Pokok-Pokok Permasalahan.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka pembahasan tentang pola pendidikan pada pondok pesantren ini mempunyai beberapa poin yang menjadi rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apa tujuan dan penggunaan ilmu pengetahuan itu ?
b. Apakah definisi-definisi pendidikan dalam Pesantren Salafiyah ?
c. Bagaimana metodologi pembelajaran pada pondok pesantren salafiyah?

C. Tujuan Dan Penggunaan Ilmu Pengetahuan
1. Tujuan Ilmu Pengetahuan
Telah terjadi perdebatan panjang tantang tujuan ilmu pengetahuan. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi orang yang menemukannya, dan mereka ungkapkan hal ini dengan ungkapan “ilmu pengetahuan untuk ilmu pegetahuan”, sebagaimana mereka katakan “seni untuk seni” dan sastra untuk sastra” sementara yang lain berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menembah kesenangan manusia dalam hidupnya di dunia ini. Sedangkan sebagian yang lain lagi cenderung menjadikannya sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan dan kemejuan bagi umaat manusia secara keseluruhan.
Al-Qur’an manjadikan ilmu pengetahuan bukan hanya untuk mencapai kebenaran dalam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini, melainkan lebih jauh dari itu adalah untuk mencapai keselamatan, ketenangan serta kebahagiaan hidup di balik kehidupan dunia yang fana ini, yaitu kehidupan di akhirat. Mereka hanya mengetahui yang nampak saja dari kehidupan manusia, sedangkan kehidupan akherat mereka lalaikan. (Q.S. Ar-Rum:6-7). Bukanlah akherat itu lebih baik daripada (yang) pertama (dunia) Q.S Ad-Duha : 3).
Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa, mati bukanlah akhir dari sebuah kehidupan dan bukan pula merupakan akhir sebuah perputaran. Akan tetapi mati merupakan tahap perpindahan kealamlain yang tidak dapat diketahui dengan inderawi, sebab hal ini menyangkut masalah ghaib.

2. Penggunaan Ilmu Pengetahuan
Pada pembahasan sebelumnya telah dikemukakan tentang tujuan ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an disamping untuk menemukan kebenaran empirik sensual, empirik logis juga memberikan petunjuk kepada manusia untuk mencapai kebenaran yang hakiki.
Berpangkal dari kebenaran yang diperoleh ini, manusia akan berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sahari-hari. Dalam ilmu pengetahuan biasanya disebut dangan teknologi yang merupakan anak kandung dari ilmu pengetahuan baik dalam sekala kecil maupun dalam sekala besar dan mendasar.
Kembali pada Ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah penegasan bahwa, bahwa setiap aktivitas belajar dan juga penelitian harus disadari dengan nilai ketuhanan. Perintah membaca dengan menyadarkan pada nama Tuhan Yang Maha Mulia akan memberikan landasan yang kuat dalam setiap kegiatan baik saat ilmuan mengadakan penelitian untuk menemukan suatu kebenaran hingga menemukan hasil penemuannya.
Satu pernyataan yang menarik dari salah seorang ilmuan dibidang hubunagan internasional yaitu Marwah Daud Ibrahim adalah, ada tiga hal yang sepatutnya menjadi perhatian bagi ilmuwan yang akan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam hal ini juga dalam penggunaannya. Pertama, Pengambangan ilmu pengetahuan mamarlukan kerendah hatian. Ilmu pengetahuan adalah Common heritage mankind (warisan bersama umat manusia). Tak satupun ilmu pengethuan atau teknologi yang dapat diklaim oleh suatu ras, bangsa atau agama sebagai miliknya atau hasil pikir kerjanya semata.
Kedua, Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan solidaritas. Berbicara tantang masa depan pada dasarnya berbicara tantang masa depan manusia yang ada di planet ini, dan pada dasarnya dunia ini semakin interdependence artinya saling ketergantungan satu sama lain misalnya kejadian di suatu negara mempunyai implikasi yang langsung pada bagian dunia yang lain.
Ketiga, Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan kerja sama antara ilmuwan dan agamawan. Kini teknologi berkembang dengan sangat pesat terutama dangan ditemukannya teknologi transfortasi dan komunikasi serta rekayasa genetika.

II. DEFINISI-DEFINISI PENDIDIKAN
a. Dalam Islam
Kata “islam” dalam “pendidikan Islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam. Jelas, pertanyaan yang hendak dijawab ialah “ Apa pendidikan itu menurut Islam?” . Menurut orang awam, pendidikan adalah mengajari murid di sekolah, melatih anak hidup sehat, melatih silat, menekuni penelitian, melatih anak bernyanyi, bertukang, dan lain-lain. Menurut Marimba (1998):19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan secara jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
b. Dalam Al-Qur’an
Untuk memperoleh pengertian yang tepat pada ilmu, setidak-tidaknya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi etemologi dan terminologi. Secara etemologis kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (ِعْلمُ ), dalam bahasa Inggris science, dalam bahasa jerman Wissenschaft dan dalam bahasa belandanya Wetenschap.
Kata ilmu merupakan suatu perkataan yang memiliki makna ganda, artinya mengandung lebih dari satu arti. Oleh karena itu, dalam penggunaan kata tersebut seseorang harus menegaskan atau sekurang-kurangnya menyadari arti mana yang dimaksud. Pada umumnya ilmu diartikan sebagai sejenis pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan, dapat dikatakan sebagai ilmu, melainkan ilmu yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Berdasarkan cakupanya ilmu merupakan kata umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi dalam arti yang pertama ilmu mengacu pada ilmu secara umum(science in general ). Sedangkan arti yang kedua ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari suatu bidang tertentu. Dalam hal ini ilmu berarti suatu cabang ilmu seperti antropologi, biologi, geografi, atau sosiologi.
Secara terminologis, istilah ilmu atau science kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengeni dunia fisik atau matarial (systematic knowledgeof the physical or material world).
Istilah “science” sering juga digunakan untuk menunjukkan gugusan ilmu-ilmu kealaman atau natural science. Natural science inilah yang nampaknya di Indonesia diterjemahkan menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Natural science tidaklah sama dengan ilmu alam dan lebih luas dari pada fisika. Science dalam arti natural science inilah yang biasanya dimaksud dalam ungkapan ‘sains dan teknologi.
Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang terbaca dalam pustaka menunjukkan sekurang-kurangnya pada tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas dan metode. Dalam hal yang pertama dan yang ini yang paling umum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan (knowledge). Di antara para filosof dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (a systematic body of knowledge). Seorang filosof yang meninjau ilmu, John G. Kemeny, juga memakai istilah ilmu dalam arti semua pengetahuan yang dihimpun dengan perataraan metode ilmiah (all knowledgecollected by means of the scientific method).
II. METODOLOGI PEMBELAJARAN PADA PONDOK PESANTREN SALAFIYAH.
Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Pesantren walaupun dikategorikan sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sitem pengajaran tersendiri, dan itu menjadi ciri khas sistem pengajaran /metodik-didaktik yang membedakan dari sistem-sistem pengajaran yang dilakukan dilembaga pendidikan formal.
Ada beberapa metode pengajaran yang diberlakukan di Pesantren-pesantren, diantaranya adalah : Sorogan, Weton/Bandungan, Halaqoh, Hafalan, Hiwar, Bahtsul Masa’il, Fathul Kutub, dan Muqoronah. Metode-metode pembelajaran tersebut tentunya belum mawakili keseluruhan dari metode-metode pembelajaran yang ada di pondok pesantren, tetapi setidaknya paling banyak diterapkan dilembaga pendididkan tersebut. Berikut ini adalah gambaran singkat bagaimana bagaimana penerapan matode tersebut dalam sistem pembelajaran santri.
a. Sorogan
Sorogan, berasal dari kata sorog (bahasa jawa) yang berarti menyudorkan, sebab setiap santri menyudorkan kitabnya dihadapan kyai atau pembantunya –asisten kyai. Sistem sorogan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi seorang murid yang bercita-cita sebagai orang alim. Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa arab.
Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna, sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan,komentar, atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Metode ini tepat bila diberikan kepada murid-murid seusai tingkat dasar (Ibtidaiyah) dan tingkat menengah (tsanawiyah)yang segala sesuatunya perlu diberi atau dibekali.
b. Watonan atau bandungan
Waton/bandungan, istilah weton ini berasal dari kata wektu (bhs.Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu-waktu tertentu,sebelum dan atau sesudah melakukan shalat fardhu. Metode weton ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya.
Dan metode bandungan ini cara penyampainnya dimana seorang guru, kyai, atau ustadz membacakan serta menjelaskan isi kandungan kitab kuning, sementara santri, murid, atau siswa mendengarkan, memberi makna,dan menerima. Jadi guru berperan aktif sementaramurid bersifat pasif. Dan metode bandungan ini dapat bermanfaat ketika julah muridnya cukup besar dan waktu yang tersedia relatif sedikit, sementara materi yang harus disampaikan cukup banyak.
c. Halaqoh
Metode Halaqoh, dikenal juga dengan istilah munazaharah system ini merupakan kelompok kelas dari system bandungan. Halaqoh yang berarti bahasanya lingkaran murid, atau sekelompok siswa yang belajar dibawah bimbingan seorang guru atau belajar bersama dalam satu tempat. Sistem ini merupakandiskusi untuk memahami isi kitab , bukan untuk mempertanyakan kemungkinan benar salahnya apa-apa yang diajarkanoleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oeh kitab.
Bila dipandang dari sudut pengembangan intelektual, menurut Muhammad yunus system ini hanya bermanfaat bagi santri yang cerdas, rajin dan mampu serta bersedia mengorbankan waktu yang besar untuk stadi ini. Metode ini dimaksudkan sebagai penyajian bahan pelajaran dengan cara murid atau santri membahasnya bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah tertentu yang ada dalam kitab kuning, sedangkan guru bertindak sebagai “moderator”. Metode berdiskusi bertujuan agar murid atau santri aktif dalam belajar, sehingga akan tumbuh dan berkembang pemikiranpemikiran kritis, analitis, dan logis.
d. Hafalan atau tahfizh
Hafalan, metode yang diterapkan di pesantren-pesantren, umumnya dipakai untuk menghafalkan kitab-kitab tertentu, semisal Alfiyah ibnu Malik atau juga sering juga dipakai untuk menghafalkan Al-Qur’an, baik surat-surat pendek maupun secara keseluruhan. Metode ini cukup relevan untuk diberikan kepada murid-murid usia anak-anak, tingkat dasar,dan tingkat menengah. Pada usia diatas itu, metode hafalan sebaiknya dikurangi sedikit demi sedikit, dan lebih tepat digunakan untuk rumus-rumus dan kaidah-kaidah.
Dalam metode hafalan para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacaan tertentu dalam jangka aktu tertentu. Hafalan yang dimiliki santri ini kemudian di “setorkan” dihadapan kyai atau ustadznya secara priodik atau insidental tergantung kepada petunjuk sebelumnya. Dengan demikian, titik tekan pada pembelajaran ini adalah santri mampu mengucapkan atau melafalkan sekumpulan materi pembelajaran secara lancer dengan tanpa melihat atau membaca teks.
e. Hiwar atau musyawarah
Metode hiwar atau musyawarah,hamper sama dengan metode diskusi yang umum kita kenal selama ini. Bedanya metode hiwar ini dilaksanakan dalam rang pendalaman atau pengayaan materi yang sudah ada di santri. Yang menjadi ciri khas dari hiwar ini, santri dan guru biasanya terlibat dalam sebuah forum perdebatan untuk memecahkan masalah yang ada dalam kitab-kitab yang sedang di santri.
f. Bahtsul Masa’l (Mudzakaroh)4
Metode Mudakarah atau dalam istilah lain bahtsul masa’il merupakan pertemuan ilmiah, yang membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah dan masalah agama pada umumnya. Metode ini tidak jauh beda dengan metode musyawarah. Hanya saja bedanya, pada metode mudzakarah persyaratannya adalah para kyai atau para santri tingkat tinggi.
g. Fathul Kutub
Metode Fathul Kutub biasanya dilaksanakan untuk santri-santri yang sudah senior yang akan menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren. Dan ini merupakan latihan membaca kitab (terutama kitab klasik), sebagai wahana menguji kemampuan mereka setelah mensantri.
h. Mukoronah
Metode mokoronah adalah sebuah metode yang terfokus pada kegiatan perbandingan, baik perbandingan materi, paham, metode maupun perbandingan kitab. Metode ini akhirnya berkembang pada perbandingan ajaran-ajaran agama. Untuk perbandingan materi keagamaan yang biasanya berkembang di bangku Perguruan Tinggi Pondok Pesantren (Ma’had Ali) dikenal istilah Muqoronatul Adyan. Sedangkan perbandingan paham atau aliran dikenal dengan istilah Mukoronatul madzahib.(perbandingan mazhab).
i. Muhawarah atau Muhadatsah
Muhawarah adalah merupakan latihan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa arab. Aktivitas ini biasanya diwajibkan oleh Pondok Pesantren kepada para santrinya selama mereka tinggal di Pondok Pesantren. Percakapan ini baik antra sesame santri atau santri dengan ustadznya, kyainya pada waktu-waktu tertentu. Kepada mereka diberi perbendaharaan kata-kata bahasa Arab atau Inggris untuk dihafalkan sedikit demi sedikit, setelah santri banyak menguasai kosa kata, kepada mereka diwajibkan untuk menggunakan dalam percakapan sehari-hari. Dan banyak juga di Pondok-Pondok Pesantren metode muhawarah ini yang tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam satu minggu atau dalam waktu-waktu tertentu saja.

IV. PENUTUP/ Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian laku yang berlangsung secara progresif.
2. Tujuan dan penggunaan ilmu pengetahuan
3. Pengertian ilmu pengetahuan dalam Islam dan Al-Qur’an
4. Metodologi pembelajaran pada Pondok Pesantren Salafiyah diataranya adalah :
a. Sorogan
b. Watonan atau bendungan
c. Halaqoh
d. Hafalan atau tahfizh
e. Hiwar atau musyawarah
f. Bahtsul masa’il (Mudzakaroh)
g. Fathul Kutub
h. Muqoronah
i. Muhawarah / Muhadatsah

Tentang Muhammad Khofifi

beragam aktifitas selalu mengakrabi kehidupan Muhammad Khofifi, eksdemonstran kelahiran desa Bulupitu gondanglegi Malang Jawa timur pada tanggal 18 Maret 1985 ini menempuh TAMAN KANAK-KANAK IBNU HAJAR LULUS PADA TAHUN 1999/1990 pendidikan MI MIFTAHUL ULUM Bulupitu lulus pada tahun pelajaran1994/1995 kemudian MTs IBNU HAJAR BULUPITU lulus pada tahun pelajaran 1998/1997 kemudian mengabdi di dalem ponpes Al HAFILUDDIN KYAI HMUHAMMAD SHOLEH selam 2 tahun kemudian melanjutkan sekolah MA di MADRASAH ALIYAH RAUDLATUL ULUM tahun pelajaran 2001/2002 kemudian lulus pada tahu 20004/2005 lulus kemudian tugas mengajar selama satu tahun di Pulau GARAM " madura" didesa pao paleh laok ketapang sampang madura kemudian pulang karna tidak kerasan kemudian bekerja menjadi Staff Perpustakaan selama satu tahun kemudian diangkat menjadi staff TU administrasi sampai sekarang kemudian kuliah di STAI AL QOLAM.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

11 Balasan ke POLA PENDIDIKAN SANTRI PADA PONDOK PESANTREN

  1. abdul kholid ma'rufi berkata:

    tulisan anda menarik. namun menurut anda kenapa saat ini jumlah santri ponpes salaf mengalami penurunan?

    • khofif berkata:

      karena santri zaman sekarang tipenya pemalas maunya semua instan tidak memikirkan sebab akibat ……..!

      • Nurul berkata:

        saya kira, semua orang merasa bahwa bahasa itu adalah alat komunikasi, dan pondok salaf belum bisa menjanjikan itu, jadi bila salaf kembali diminati, maka coba masukkan pelajaran muhadasah, yang biasanya terdapat di pondok modern

  2. A. Sudrajat berkata:

    Aslkm., Mas, artikelnya bagus, bolehkah saya minta rujukan/referensinya dari mana? (terutama tentang metodologi pembelajaran pada pondok pesantren). Mohon informasinya segera dan dikirm ke e-mail saya Mas, terima kasih.

  3. isnan bukhori berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb

    makasih atas artikelnya mas…….
    aku merasa sangat terbantu banget atas artikel yg dipaparkan ini.

  4. trims atas pembahasannya.. bisa saya minta tolong referensi/rujukannya.. utk studi pembelajaran.. bahkan saya juga ingin tahu literatur yang anda baca agar saya juga bisa membacanya.. trims..
    mhon kirimkan jawabannya ke e-mail ini zhang_chenzhu@yahoo.co.id.. trims

    • khofif berkata:

      maaf baru balaz soalnya sibuk dengan perkerjaan itu ada di buku terbitan pondok pesantren al khoirot coba sampian kirim email ke pondok al khoirot pengasuhnya kiai fatih zuhud zayyadi beliau juga punya email

  5. adi berkata:

    assalamu’alaikum
    melihat perkembangan santri2 zaman sekarang banyak menimbulkan permasalahn2 yang kecil hingga yg besar. bagaiman sikap yg bijak untuk menanggapi hal ini agar kita bisa mengetahui sebabnya dan dapat mendapatkan solusi dari setiap permasalahan yang terjadi sehingga tidak menjadi suatu kewajaran walaupun hal tersebut hal yang kecil.
    mohon pemasukannya ,
    syukron.

    • khofif berkata:

      itulah santri zaman sekarang, sepengalaman saya dipesantren,coba lakukan pendekatan pada obyeknya insya Alloh akan menemukan jalan keluar, mungkin sementara itu dulu masss

  6. bukunya dah isbn blum mas,,buat referensi ilmiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s