TEKHNIK PELAYANAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN
Cara penghidupan suatu Pendidikan di suatu tempat bukan hanya sekedar mengawetkan kebudayaan dan meneruskannya begitu saja, dari generasi ke generasi, akan tetapi juga diharapkan dapat mengubah dan mengembangkan pengetahuan.
Pendidikan bukan hanya menyampaikan keterampilan yang sudah dikenal, akan tetapi harus dapat meramalkan berbagai jenis keterampilan dan kemahiran yang akan datang, dan sekaligus menemukan cara yang tepat, cepat agar dikuasai oleh subject pendidik.

Manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali. Dia sangat membutuhkan bantuan yang penuh perhatian dan kasih saying dari orang tuanya, terutama Ibunya, supaya dia dapat hidup terus dengan sempurna, Jasmani dan Rohani. Orang tualah yang petama, utama bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.
Dalam Ilmu Jiwa dikenal dengan istilah pertumbuhan dan perkembangan, yaitu supaya anak sempurna dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan yaitu merupakan suatu perubahan yang terjadi pada jasmani saja, kalau Perkembangan perubahannya terjadi pada rohani dan jasmaniah.
II. PEMBERIAN BEBERAPA SISTEM PELAYANAN DALAM PENDIDIKAN
A. Berbagai Pilihan Tempat
Sistem penempatan ini untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada anak berkesulitan belajar. Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu :
1. Tingkat kesulitan anak
2. kebutuhan anak untuk memperoleh pelayanan yang sesuai
3. Keterampilan sosial dan akademik anak
Menurut Lerner (1988:141) ada tiga system penempatan yang banyak dipilih oleh sekolah, yaitu kelas khusus (special class), Ruang sumber (resource room), dan kelas Regular (regular class). Menurut Lerner, 20% anak berkesaulitan belajar di amerika serikat memperoleh pelayanan di kelas khusus, 62% di ruang sumber , dan 15% di kelas regular.
Sekolah kelas khusus system penyelenggaraanya yaitu : menempatkan 10 atau 20 anak yang berkesulitan belajar dalam satu kelas. Kelas ruang sumber merupakan ruang yang di sediakan oleh sekolah untuk memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi anak yang membutuhkan,terutama yang tergolong berkesulitan belajar. Dan kelas regular jenis pelayananya adalah untuk mengubah citra tentang adanya dua tipe anak, yaitu anak yang berkesulitan belajar dan anak yang tidak berkesulitan belajar.
B. Peranan Guru Khusus bagi Anak Berkesulitan Belajar
Di Negara kita guru khusus bagi anak berkesulitan belajar masih sangat langka. Meskipun jurusan pendidikan luar biasa FIP IKIP Jakarta telah menyelenggarakan pendidikan guru khusus bagi anak berkesulitan belajar sejak tahun 1970-an, penempatan lulusannya ke dalam system persekolahan masih banyak mengalami kesulitan.
Pada tahun akademik 1993/1994 kurikulum jurusan PLB dengan cara tegas mencantumkan 7 bidang kekhususan pendidikan anak berkesulitan belajar yaitu Pendidikan bagi anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, anak berkesulitan belajar, dan anak berbakat.
Ada sembilan peranan guru khusus khusus bagi anak berkesulitan beajar di Sekolah (Lerner, 1988: 147). Yaitu:
1. Menyusun rancangan program identifikasi, asesmen dan pembelajaran anak berkesulitan belajar.
2. berpartisipasi dalam penjaringan, asesmen dan evaluasi anak berkesulitan belajar.
3. berkonsultasi dengan para ahli yang terkait dan menginterpretasikan laporan mereka.
4. melaksanakan tes, baik dengan tes formal maupun informal.
5. berpartisipasi dalam penyusunan program pendidikan yang diindividualkan (individualized education program)
6. mengimplementasikan program pendidikan yang diindividualkan
7. menyelenggarakan pertemuan dan wawancara dengan orang tua
8. bekerja sama dengan guru regular atau guru kelas untuk memehami ana dan menyediakan pembelajaran yang efektif
9. membantu anak dalam mengembangkan pemahaman diri dan memperoleh harapan untuk berhasil serta keyakinan kesanggupan mengatasi kesulitan belajar.
C. Hubungan Guru, siswa, dan Orang Tua
Hubungan dengan siswa/anak didik di dalam proses belajar mengajar merupakan factor yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnannya metode yang dipergunakan, namun jika hubungan guru-siswa merupakan hubungan yang tidak harmonis, maka dapat menciptakan suatu keluaran yang tidak diinginkan.
Dalam hubungan ini salah satu cara adalah adanya contact hours di dalam hubungan guru-siswa. Contact hours adalah : jam-jam pertemuan antara guru-siswa yang merupakan kegiatan di luar jam presentasi di muka kelas seperti biasanya.
Guru dalam menjalin hubungannya dengan orang tua siswa, Menurut Lerner (1988: 154) : guru perlu memahami bahwa ada tiga reaksi para orang tua terhadap anak mereka yang berkesulitan belajar. Yaitu :
1. menolak atau tidak dapat menerima kenyataan.
2. kompensasi yang berlebihan.
3. menerima anak sebagaimana adanya.
D. Program Bimbingan dan Latihan bagi Orang Tua
Meskipun peranan orang tua terhadap keberhasilan anak di sekolah telah lama dikenal, penyediaan layanan bimbingan dan latihan bagi orang tua di sekolah, terutama di TK dan SD, masih sangat terbatas. Berikut ini akan dikemukakan program bimbingan dan program latihan bagi orang tua :
1. Program bimbingan Bagi Orang Tua
Menurut McDowellseperti di kutip oleh mercer(1979:100), ada dua macam pendekatan dalam memberikan bimbingan bagi ortu ,yaitu pendekatan informasional dan pendekatan psikoterapetik. Pendekatan informasional menekankan pada penyediaan pengetahuan bagi ortu tentang kesulitan belajar. Mercer mengemukakan contoh pendekatan dengan suatu rangkaian pertemuan berangkai yang di selenggarakan oleh Mc whirter . sekolah meyelenggarakan suatu rangkaian pertemuan bagi ortu anak berkesulitan belajar dan bagi mereka di berikan informasi tentang anak berkesulitan belajar dan latihan untuk mengulanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertemuan-pertemuan semacam itu sangat berharga bagi ortu.
Pendekatan psikoterapetik memusatkan perhatian pada usaha membantu orang tua memahami konflik keluarga dan gangguan emosional yang disebabkannya.
Menurut Abrams dan Kaslow seperti dikutip oleh Mercer (1979 : 104), Ada beberapa macam strategi pemberian bantuan bagi anak berkesulitan belajar seperti dikemukakan berikut ini :
– Hanya intervensi pendidikan. Strategi ini ditujukan kepada anak berkesulitan belajar tanpa gangguan emosional, yang memiliki keluarga stabil dan harmonis.
– Hanya terapi individual. Strategi ini ditujukan kepada anak berkesulitan belajar yang orang tuanya memiliki gangguan yang sulit disembuhkan seperti orang tua yang pecandu obat bius, peminum alcohol, psikotik, atau yang menulak anak.
– Bimbingan kelompok orang tua. Strategi ini untuk orang tua yang baik, yang diserahkan akan memperoleh keuntungan dari pertemuan-pertemuan kelompok yang berupa memecahkan masalah kesulitan bellajar anak-anak mereka.
– Terapi individual dan tutorial. Strategi ini untuk anak berkesulitan belajar Yang membutuhkan intervensi akdemik yang sistematik dan orang tuanya memiliki gangguan yang sulit disembuhkan (lih.b).
– Terapi bersamaan anak dan orang tua dengan pemberian terapi yang berbeda. Strategi ini digunakan jika pemberian terapi kepada anak dan orang tua secara bersamaan dapat menimbulkan kecemasan atau perasaan tertekan.
– Terapi bersamaan anak dan orang tua dengan pemberian terapi yang sama. Strategi ini dapat digunakan jika orang tua dan anak dapat menjalin interaksi koperatif.
– Terapi keluarga yang terdiri dari anak, orang tua, dan saudara – saudara kandung. Strategi ini dapat digunakan bagi keluarga yang dapat memecahkan masalah dengan menciptakan lingkungan sosial yang saling menunjang atau koperatif.
2. Program latihan Bagi Orang Tua
Program ini di tujukan kepada ortu untuk memperoleh keterampilan belajar, berinteraksi dan mengelola perilaku anak secara efektif di rumah. Menurut McDowell seperti di kutip oleh meccer (1979:101) ada dua pendekatan dalam program latihan bagi ortu,yaitu (a)pendekatan komunikasi (comunikation approach)dan(b)pendekatan infolfemen approach).
Pendekatan komukasi menekankan pada penyelenggaraan komunikasi langsung antara ortu dengan anak;sedangkan pendekatan keterlibatan menekankan pada upaya pemecahan masalah praktis melalui kerja sama kelompok.
Dinkmeyer dan Carlson seperti di kutip oleh mercer(1979: 102) mengembangkan suatu strategi keterlibatan yang disebut “C-Group” yang mengembangkan suatu orang tua memecahkan masalah praktis melalui kerja sama (collaboration), konsultasi (consultation), klarifikasi (clarification), konfrontasi (confrontation), perhatian dan pengasuhan (concern and caring), kerahasiaan (confidentiality), dan tanggung jawab (commitment) pada perubahan. Dalam pendekatan ini orang tua diminta untuk menyajikan masalah-masalah praktis kepada kelompok dan kemudian mereka mencoba memecahkan masalah sesuai dengan saran yang dikemukakan oleh kelompok.
III. BAGAIMANA BERBICARA AGAR ANAK BERFIKIR
Agar anak itu menguasai kemampuan sosial dan kecerdasan emosional dibutuhkan pendekatan keayahbundaan yang berbeda. Penekannya adalah pada mengajarai anak-anak berfikir sendiri, bukan pada memerintahkan apa yang harus mereka lakukan. Ini biasanya dapat menyulitkan orang tuanya kerena mereka belum terbiasa. Sebagai orang tua ingin anak-anaknya menjadi versi orang tua yang lebih sempurna. Pula, karena kita mencintai mereka, kita ingin menghindarkan mereka dari rasa sakit dan derita yang dahulu pernah kita alami akibat kesalahan kita. Karenanya kita cendrung mendekte apa yang harus mereka lakukan berdasarkan pengalaman kita bertahun – tahun.
Agar anak – anak mau mendengarkan saran orang tuanya, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengajar anak-anak agar mampu mandiri dalam mengatasi masalah mereka sendiri. Kita tidak bisa selalu berada disamping mereka untuk memberitahu apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana seharusnya mereka berprilaku, dan kitapun tak mau begitu. Sebagai orang tua dalam mendidik anak harus bertujuan mengajarkan kepada mereka cara berfikir sendiri dan berprilaku sesuai dengan pedoman moral yang telah ditanamkan orang tua.

IV. MOTIVASI
A. Arti Mutivasi
Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Pengertian motivasi tersebut mengandung tiga elemen penting yaitu :
1. Bahwa mutivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan mutivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam system “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia.
2. Mutivasi ditandai dengan munculnya, rasa/ “feeling”, afeksi seseorang. Dalam hal ini mutivasi relevan dengan persoalan – persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3. Mutivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi mutivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, ya’ni tujuan. Mutivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsure lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Mutivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang.
B. Fungsi Motivasi
Dalam masa belajar sangat diperlukan adanya motivasi, “Motivation is an essential condition of lerning”. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi mutivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.
Ada beberapa fungsi motivasi, antara lain adalah :
a. Pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan sesuatu usaha karana adanya mutivasi.
b. mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
c. Menentukan arah perbuatan, ya’ni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
d. Menyeleksi perbuatan, ya’ni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatanyang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

V. PENUTUP / KESIMPULAN
Kita sebagai orang tua dari anak, seorang guru, calan jadi orang tua, sangatlah penting serta sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mendidik mereka, yang taklama lagi mereka adalah termasuk salah satu dari penerus /generasi keluarga, masyarakat dan bangsa. Untuk itu bimbinglah mereka dengan ilmu – ilmu yang dapat menunjang ketentraman hidup mereka.
Dari berbagai uraian di atas, hendaknya kita dapat mempelajari sekaligus mempraktekkan terhadap mereka dan memahami sebagian yang sudah tertera diatas ya’ni yang disimpulkan sebagai berikut :
1. Beberapa pemberian system pendidikan, yang meliputi berbagai tempat, peranan guru khusus anak berkesulitan belajar, hubungan guru-siswa-dan orang tua, Program bimbingan dan latihan bagi orang tua.
2. Bagaimana berbicara agar anak anak berfikir
3. Motivasi dan beberapa fungsi motivasi.

Tentang Muhammad Khofifi

beragam aktifitas selalu mengakrabi kehidupan Muhammad Khofifi, eksdemonstran kelahiran desa Bulupitu gondanglegi Malang Jawa timur pada tanggal 18 Maret 1985 ini menempuh TAMAN KANAK-KANAK IBNU HAJAR LULUS PADA TAHUN 1999/1990 pendidikan MI MIFTAHUL ULUM Bulupitu lulus pada tahun pelajaran1994/1995 kemudian MTs IBNU HAJAR BULUPITU lulus pada tahun pelajaran 1998/1997 kemudian mengabdi di dalem ponpes Al HAFILUDDIN KYAI HMUHAMMAD SHOLEH selam 2 tahun kemudian melanjutkan sekolah MA di MADRASAH ALIYAH RAUDLATUL ULUM tahun pelajaran 2001/2002 kemudian lulus pada tahu 20004/2005 lulus kemudian tugas mengajar selama satu tahun di Pulau GARAM " madura" didesa pao paleh laok ketapang sampang madura kemudian pulang karna tidak kerasan kemudian bekerja menjadi Staff Perpustakaan selama satu tahun kemudian diangkat menjadi staff TU administrasi sampai sekarang kemudian kuliah di STAI AL QOLAM.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke TEKHNIK PELAYANAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PENDIDIKAN

  1. adhy yanto syarutra berkata:

    gk ad masalax z lommmmmmmmmm baca

  2. Bambang Sukamto berkata:

    terima kasih, tulisan Bapak Muhammad memberi inspirasi pada saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s